Petualang Cinta

Al kisah . . . . .

Sebut  saja dia adalah dia, dia adalah seorang “petualang” , “petualang” yang suka melalang buana menjajaki tempat-tempat baru. Suatu ketika dia singgah di suatu tempat dan tempat itu adalah bilikku. Aku tak tahu apa yang sebenar nya dia cari dan awalnya akupun tak mau tahu apa yang sedang dia cari. Tanpa sadar dia mulai menghiasi setiap sudut dalam bilikku, tak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikan nya. Ada hal yang sebenarnya tak ku sukai dari dalam dirinya dan itu sangat bertentangan dengan prinsip dalam hidupku. Dan suatu hari tiba-tiba dia menghilang tanpa meninggalkan jejak. Sudahlah,sebenar-benarnya aku tahu apa alasan di balik semua itu, dan sekali lagi karna dia adalah seorang “petualang”. Itulah karakter seorang “petulang” dan seperti itulah dia. Ku coba untuk mengerti dan memahami bahwa semua nya adalah angin lalu yang ga akan pernah kembali dan tak pernah ku harapkan dia tuk kembali. Aku tak sedang bicara tanpa titik dan tanpa koma,aku juga ga mau bicara karena dengan hanya melihatnya membuatku terluka. Ku mulai langkahkan kaki kedepan memandang luas kehidupan tanpa harus menengok kebelakang.Ku melihat sesosok bayangan di sudut pandangan mataku dan ku lihat bayangan itu terus mendekat dan semakin dekat, hingga ku tahu sosok bayangan  itu adalah sang petualangku. Dia telah kembali, dia muncul di hadapan ku tanpa kata dan tanpa bicara. Tak pernah ku harapakan kehadirannya, setelah apa yang telah dia goreskan dalam bilikku. Kenapa dia harus kembali di saat aku telah menata hati. Kali ini aku mencoba berbesar hati untuk menerima dia  sebatas memperlakukan nya sebagai seorang manusia. Sudah sepantasnya dia berterimakasih,sempat dia menawarkan diri sebgai pelipur lara dan mencoba menata kembali  puing-puing yang tersisa dalam bilik. Sekali lagi aku hanya menganggap sebagai ucapan terimakasih, tak pernah sedikitpun aku berharap lebih. Ternyata tak seperti yang ku bayangkan bahwa seorang “petualang” memiliki ambisi dan hasrat yang tak terbendung, yang tak mudah putus asa dalam mewujudkan setiap keinginannya. Tanpa kusadari aku mulai tergoda dan terbuai dengan kata-kata manis yang keluar dari mulutnya. Pernah ku mencoba untuk mengabaikannya, tapi apa daya jika hati sudah bicara. Setiap detik,menit,jam yang berlalu, aku mulai memikirkannya,aku mulai peduli padanya, tak pernah sedetikpun aku tak mengingatnya,mengingat senyumannya, tatapan matanya yang begitu  dalam dan sinarnya yang penuh arti. Sungguh sulit aku mengartikan semuanya “aku dan dia”. Dia berhasil meyakinkan aku untuk mempercayakan bilikku untuk dia singgah dan dia tempati. Dan akhirnya kita bersama,bersama membangun sebuah bilik yang lebih indah yang akan kita tempati untuk masa depan. Waktu kian berjalan cepat, dia pun telah membuktikan semua janji-janjinya sehingga membuatku merasa bahagia berada di sisinya. Dia membuatku istimewa, memperlakukan aku bak putri raja,menyayangiku dengan sepenuh hati nya. Sempat dia berhasrat untuk menetap dan tinggal dalam bilikku sebagai persinggahan terakhirnya. Mungkin apakah karena terlalu cinta, dia mulai mengikatku erat-erat dan bagiku itu terlalu kencang membuatku sakit. Aku mulai tak bisa melakukan apa yang ku suka, tahukah apa yang dia lakukan membuatku semakin tertekan. Aku tak bisa marah dan aku tak boleh marah karna aku tak ingin melukai hatinya. Aku yang selalu mengalah, aku yang selalu menjaga perasaannya, semua itu ku lakukan semata karena aku menyayanginya melebihi apapun hingga ku rela mengorbankan persaanku sendiri. Tak pernah aku mengeluh padanya,seolah semua baik-baik saja. Ku berharap dia tahu dengan sendirinya dan dia mulai merubah caranya mencintaiku. Ku ingin apa yang dia lakukan semua dari hatinya. Cintanya yang begitu besar dan begitu dalam tak di imbangi dengan sikapnya,hingga akhirnya aku kalah karna cintanya. Aku mulai memberontak,hatiku sudah tak sanggup menerima cinta nya yang  begitu besar.  Mungkin dia merasa aku mulai berubah, dia terluka begitu dalam padahal aku pun menyimpan luka yang begitu dalam melebihi apa yang dia pikirkan. Disaat itu dia mencoba untuk melepaskan aku,membunuh cintanya ssendiri. Aku tahu dia hanya memaksakan dirinya untuk melakukan semua itu. Satu hal yang dia tak tahu,bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak ingin sedikitpun jauh dari dirinya. Aku memperjuangkan cintaku melebihi batas kemampuan diriku sendiri,tapi semua itu tak mampu mengembalikan hatinya untukku bahkan dirinya semakin menjauh tak menghiraukan aku. Aku yang  mulai tak di anggap, aku yang  tersingkirkan, hatiku merasa hancur  hingga akhirnya aku merasa lelah dan tak sanggup lagi. Aku menyerah, aku melepasnya   . . . . Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi,perpisahan ini membuat aku dan dia terluka. CINTA ini membuat kami terluka,tak ada yang perlu di salahkan karena semua ini hanya takdir Tuhan. Pelan tapi pasti dia terus pergi menjauh,tak ingat kah dia akan janji-anji nya. Mungkin janji hanyalah sekedar janji yang tak mempunyai kekuatan berarti. Kini dia kembali berpetualang mencari bilik-bilik yang lain untuk dia singgahi, mencari apa yang dia cari selama ini yang tak di temukan dalam diriku. D to B